kabar terbaru,, paling yahuud!!

11 April 2009 at 22:21 (Hanya Menyapa)

hoii,, untuk mengobati kekesalan temen2 semua karena ngga ada postingan di blog ini,, (ngga juga sih kayaknya),, makanya sekarang udah di-upload deh dua postingan lagii,,

SELAMAT MEMBACA!!

makasih buat  yg mau ngasih komen! X)

Permalink 1 Comment

Bab 9 Dalam Memori

11 April 2009 at 22:06 (Novel)

Cemburu dong, Der!
Hening sejenak… bukan hanya sebentar rupanya. Hmm… agak lama juga… hening…hening…hening… maaf… ternyata heningnya lama juga! Sampai Dery angkat bicara lagi.
“Kalau kamu mau buat aku kesel, selamat! Kamu berhasil. Dan kalau kamu pikir aku cemburu, kamu salah besar! Sekarang, terserah kamu aja deh!”
Seperti yang udah bisa ketebak… pembicaraan di telepon pun selesai yang dilanjuti dengan nada ‘tut…tut…tut…’ yang terdengar dari ponsel Iris.
Sekarang ada dua pertanyaan yang wajib ditanyakan oleh hatinya: Apa ia harus senang? Atau ia harus sedih? Senang karena Dery sebenarnya cemburu dan telah memberikan perhatian lebihnya kembali, atau harus sedih karena Dery marah padanya?
Nggak ada pertanyaan yang ia jawab langsung oleh hatinya, ia hanya mendekati Aldo dan berkata, “Do… sekarang kita pulang!”
Aldo nggak ngambil pikiran panjang, nurutin permintaan Iris pasti langkah tepat dalam bertindak. Dan nggak make acara manis-manis segala semacam ngebukain pintu mobil segala buat Iris, karena Iris udah keburu masuk ke dalam mobil sebelum dipersilahkan.
Iris menenangkan dirinya di jok mobilnya. Ia dapat jawabannya. Nggak harus senang dan nggak usah sedih. Tapi harus khawatir dengan apa yang terjadi selanjutnya. Ia berusaha untuk berpikir dari sisi Dery. Mungkin aja Dery mikir bahwa gue udah ngecewain dia karena nggak ngertiin dia, udah tahu Dery itu nggak pernah bilang, kenapa nggak inisiatif untuk nanyain ke Dery sebelum dia mengiyakan tawaran Aldo. Duh, ko baru kepikiran. Dan dalam pembicaraannya dengan Dery, nggak ada kata maaf pun yang sempat keucap diantara keduanya. Sungguh kebodohan yang nggak disadari. Sekarang harus bilang apa sama Dery? Mungkin aja Dery ngerasa dikhianati sama gue karena gue udah nggak ngasih waktu gue sama dia?? Dan… gue harus ngomong sekarang sama Aldo.
“Dho, sambil nyetir kamu masih bisa dengerin aku kan?”, tanya Iris pelan, air mukanya sudah menunjukan rawut kekhawatiran.
“Bisa ko! Memangnya ada yang mau kamu bicarain? Apa? Bilang aja!”, jawabnya dengan senang hati.
“Tapi aku nggak ada maksud dan nggak ingin nyakitin kamu… apalagi bikin kamu marah dan kecewa sama aku…”, ujarnya.
“Kamu nggak perlu khawatir soal itu. Aku nggak akan kenapa-kenapa ko!”, jawabnya.
Iris menenangkan dirinya sebentar, mengatur nafasnya setertib mungkin. “Dho, aku pengen… kita jangan sedekat ini lagi. Ada hal lain yang harus aku kedepankan… maafin aku, Dho…”
Aldo nggak ngasih respon apapun, bahkan sampai Iris terus memandanginya. Lama juga keheningan itu menyambut mereka.
“Aku udah menyangka akan hal itu ko! Jadi kamu nggak perlu takut tentang hal itu. Ingat kan janji aku waktu itu? Aku bersedia untuk membangun kembali mercusuar itu… yaitu kamu. Tapi bukan berarti aku yang harus memilikinya. Berjalanlah di jalan kamu. Terangi diri kamu seperti kamu menerangi orang lain, agar nampak kebahagiaamu yang sebenarnya…”, ujarnya.
Iris menelan ludahnya. Ya… ia melakukannya!
Iris menarik nafas dalam-dalam lagi.
“Sekarang, aku minta kejujuran yang sepenuhnya dari kamu, Dho! Sebenarnya, apa yang kamu rasain selama ini ke aku?”, tanya Iris dengan semua organ yang bekerja seperti dua kali lipat lebih cepat.
Aldo nggak langsung ngejawab, entah untuk bikin Iris menunpuk penasaran, atau memang lagi mikir jawabannya, atau mungkin sekedar merangkai kata-kata indah!
“Aku menyayangi kamu. Mungkin aku mencintai kamu!”
Iris terbelalak, kejujuran yang dimintanya udah lebih dari cukup dari yang ia minta dan bayangkan.
“Aku… butuh yang pasti. Aku nggak mau kata ‘mungkin’”
“Aku… mencintai… kamu!”
Iris makin melotot…
…“Pokoknya, Ris! Kalau lu ngecewain Aldo, berarti lu ngecewain gue. Kalau lu nyakitin dia, berarti lu nyakitin gue. Dan jika lu membahagiakan dia, berarti lu membahagiakan gue, Ris! Gue percaya sama lu. Sahabat gue!”, bisik Dina…

Iris teringat kembali dengan pembicaraannya dengan Dina.

Terangilah dirimu agar nampak dirimu dengan kebahagiaanmu yang sesungguhnya…
Gue nggak bisa bohongi diri gue sendiri, dan gue nggak boleh ngebohongi orang lain, terus menerus!

“Dho… gue sayang sama Dery. Memang dia kakak gue… tapi gue benar-benar sayang sama dia. Aku tahu bahwa kamu tahu itu. Kamu tahu kan aku sayang sama Dery, bahkan dari awal kedekatan kita. Maaf… aku nggak bisa ngebalas apa yang kamu rasain sama aku…”, ujarnya.
Aldo malah tersenyum bangga.
“Aku senang kamu berani ngomong gitu. Nggak apa-apa ko. Aku nggak mengaharpkan balasan perasaan yang sama dari kamu. Aku tahu aku nggak akan bisa mendapatkan itu, tapi aku hanya nyoba apa yang aku bisa, yaitu ngebuat kamu bahagia. Masalah perasaan kamu yang nggak bisa membalsa perasaan aku, ya nggak apa-apa. Itu hak kamu. Yang pasti, Dery bakal senang dengan kejujuran kamu. Aku bangga sama kamu. Jangan hanya sampai di sini kamu nunjukin kebahagiaan kamu yang sebenarnya. Ya!”, ujarnya.
Nggak, ris! Semua itu hanya bohong! Aku bohong demi kamu. Biar aja aku merana dengan perasaan yang bertepuk sebelah tangan ini dibanding ngelihat kamu tersiksa. Aku sayang kamu, semuanya aku lakuin buat kamu. Semua! Tapi nggak ada yang berubah dari perasaan kamu. Kamu tetap sayang sama Dery. Apa kamu nggak sadar Dery udah punya pasangannya? Seharusnya aku yang kamu sayangi, bukan Dery!
Iris menundukan kepalanya, “Dho… kamu tahu…? Dina begitu menyayangi kamu… Dina sayang banget sama kamu. Dia akan melakukan apa aja asal kamu bahagia. Begitu besar pengorbanan dia buat kamu. Terutama dia mengorbankan perasaannya. Dia bilang, kalau aku ngecewain kamu, berarti aku ngecewain dia. Aku takut banget untuk nyakitin dia…”
Kali ini Aldo benar-benar nggak mau ngasih responnya sama sekali. Dia hanya menatap jalan di depannya, berusaha fokus dan tidak terpengaruh oleh suasana. Ini semua semakin membebani pikirannya. Apalagi yang sebaiknya ia bilang pada Iris?
Dina itu memang baik, baik banget. Dia selalu ngedukung aku tiap kali aku mendekati kamu. Dan aku tahu soal perasaannya, dia pernah bilang sebelumnya sama aku. Tapi kenyataannya, aku mendapati diri aku sendiri menyayangi kamu, Ris…
“Nggak apa-apa ko, Dho! Kalau kamu nggak pengen jawab. Maafin ya, Dho!”, ujarnya
Aldo mengangguk dan tersenyum pada Iris.
Iris membalasnya.



Mobil Aldo segera beranjak kemudian setelah Iris turun dari mobil itu dan melambaikan salam ‘sampai jumpa’ pada Aldo. Dilanjutkan dengan Iris yang berjalan perlahan menghadapi Dery yang tertidur di bangku teras itu. Entah mengapa, Dery manis sekali. Iris membuka pagar rumahnya dan berjalan masuk, duduk di bangku sebelahnya dan menenangkan diri.
Dilihatnya sosok kakaknya yang tertidur di bangku itu. Kemudian membelai rambut Dery, kemudian melepaskan kaca mata yang masih bertengger di muka Dery. “Maafin aku, ya Der!”
Belaian itu pun berhenti, Iris menyilangkan tangannya di badannya, berusaha menghangatkan tubuhnya. Kelopak matanya jatuh-jatuh juga… ia mulai mengantuk… sampai ia dibuai kantuk yang lebih dari kapasitasnya, sampai ia tertidur.
Kedua tubuh itu kehabisan tenaga, sama-sama tetidur di bangku teras. Begitu yang Aldo lihat setelah beranjak dari rumah Iris dan lewat sebentar untuk menengok sekilas.
Dery terbangun juga, melihat adiknya yang sudah ada di bangku di sampingnya ia siap memuncakan rasa marahnya. Mukanya memerah, siap mempersiapkan kata-kata jitunya. Dikenakannya kacamatanya, kemudian mendekati Iris. Dan malah…
Mendekap tubuh Iris dan menggendongnya, dimasukinya rumah Iris, dan dibawanya Iris ke dalam kamarnya, serta membaringkan tubuh Iris di tempat tidurnya.
Dipandanginya wajah adiknya tersebut, kemudian duduk di sebelah Iris yang tengah tertidur dengan nyenyaknya, nampakya Iris sedang memimpikan sesuatu yang membuatnya sangat bahagia. Dery memutar pikirannya, hanya untuk memikirkan mimpi apa yang sedang Iris kunjungi. Apa ia ada dalam mimpinya? Atau malah Aldo?! Menurutnya, ia yang seharusnya ada di dalam mimpi Iris.
Sekarang berganti Dery yang membelai Iris berkali-kali, menujukan rasa sayangnya. Dery kembali teringat atas kenangannya bersama Iris, saat mereka pertama kali menyatakan sebagai kakak dan adik.
Saat itu musim hujan di Bogor, meski Bogor memang Kota Hujan yang tiap harinya kadang nggak luput dari yang namanya hujan. Saat itu akhir bulan Januari, dimana hujan sedang hobi-hobinya turun ke muka bumi. Bikin semua orang hobi bawa payung ke tempat yang mereka tuju. Termasuk Iris yang nggak mau tubuhnya ‘dinodai’ sama air hujan yang turun terus-terusan.
Waktu itu Iris keluar dari kelasnya, tangannya bersilangan, berusaha menghangatkan tubuhnya, sendirian. Saat itu Dery selalu memperhatikan adik kelasnya itu. Hampir setiap saat. Yang Dery liat, Iris nggak pernah punya teman, apalagi sahabat. Iris duduk sendiri, di depan meja guru. Dia nggak banyak bicara, hanya seperlunya. Iris seperti dikucilkan oleh teman-temannya. Entah kenapa.
Satu saat, sekolah sudah sepi, hampir jam lima sore. Nggak ada alasan yang Dery tahu kenapa bisa-bisanya Iris selalu pulang jam segitu. Cuma saat itu aja Dery udah menumpuk rasa penasaran sehingga ia mau menunggu di sekolah hanya sekedar untuk tahu kenapa Iris tahan di sekolah sampai jam segitu.
Dery berdiri di bawah gerbang sekolah yang besar. Ia menunggu hujan reda. Jemarinya sesekali bermain dengan rintikan hujan yang masih berjatuhan dihadapannya. Lama juga ia berdiri di situ. Nungguin hujan sama aja bohong, jelas-jelas hujannya udah ada, masih aja ditungguin.
Iris untuk terakhir kalinya menengok ke jam tangannya, kemudian berjalan ke tempat yang sama seperti Dery berdiri, gerbang sekolahnya. Kemudian, dibukanya payung berwarna hijaunya. Iris siap untuk pulang. Tanpa menghiraukan Dery Iris membuat langkah pertamanya, namun langkahnya bukan berlanjut. Malah diam. Kemudian menengok pada Dery.
“Mau bareng? Kamu pulang ke mana?”, tanya Iris.
“Kamu ngajak aku? Aku pulang ke daerah Pagelaran. Kamu?”, tanya Dery balik.
“Aku ke daerah Bantarjati.”
“Kalo gitu, kita nggak bisa bareng. Kalau kamu mau duluan, silahkan aja. Lagian, aku nggak mau langsung pulang ko!”, jawab Dery.
“Memangnya, kamu mau ke mana?”, tanya Iris.
“Mau ke Taman Peranginan. Nyari suasana nyaman.”
Setelah itu nggak ada yang angkat bicara. Bukan karena malu atau nggak enak, tapi lebih tepatnya nggak ada topik pembicaraan.
“Aku boleh ikut?”, tanya Iris.
“Kamu mau ngapain ikut-ikut segala?”, tanya Dery. Padahal niat sebenarnya bilang mau ke Taman Peranginan cuma untuk nolak ajakan Iris secara halus.
“Pengen nyari suasana nyaman juga. Dan aku ingin tahu apa yang ngebuat kamu mau ke sana.”, jawabnya.
Dery menelan ludahnya sendiri.
“Ya udah, kita ke sana sekarang. Nanti malah kesorean. Yuk!”, ajak Dery. Mereka langsung melanjutkan langkah masing-masing. Tanpa ditanya, Iris langsung mayungin Dery yang bajunya sudah sebagian basah.
Iris memperhatikan sosok yang sedang bersamanya.
Selama perjalanan menuju Taman Peranginan nggak ada satu pun topik pembicaraan yang mau diangkat atau diperbincangkan. Semuanya serba hening, hanya suara air hujan dan kendaraan yang berseliweran yang terdengar. Pengen rasanya Dery memecah keheningan itu, dia benar-benar nggak suka dengan keadaan yang serba maksa itu.
Di Taman Peranginan semua bangku basah, jelas karena baru diguyur sama hujan deras. Hanya pohon-pohon besar di situ yang menopang semuanya. Mereka malah berdiri berdua di situ. Keduanya bertatapan. Sangat dalam.
Nggak ada pilihan lain selain menikmati suasana yang ia cipatakan sendiri, pikir Dery.
“Aku tahu apa yang ngebuat kamu mau ke sini.”, ujar Iris seraya memunculkan rona senyum yang nggak pernah Dery lihat sebelumnya. Membuat keadaan perasaan Dery yang awalnya gelap jadi diterangi indahnya senyum itu.
“Bagus kalau gitu. Indahnya tempat ini nggak bisa dijelasin sama lisan, tapi bisa dijelasin sama hati.”, Dery membalas senyum Iris.
Iris malah nunduk, nggak bergeming, entah air hujan jatuh di wajahnya atau ia menangis. Tapi yang jelas setets air turun dari raut mukanya. Dery yakin itu air mata Iris.
“Tapi apa yang ngebuat kamu mau bicara sama aku? Apalagi mau nemenin aku ke sini?”, tanya Iris.
Dery malah kelimpungan sebdiri, bingung harus jawab apa. “Karena kamu minta tadi…”
“Oh…”, Iris ngerespon dengan susah payah kayaknya. Lalu menunduk lagi. Dan lagi-lagi meneteskan air mata.
Dery nggak tahan ngelihat keadaan sentimentil yang ada dihadapannya. Diangkatnya dagu orang yang ada di depannya ini. “Kenapa kamu nangis?”, tanya Dery.
“Kamu… orang pertama yang mau jadi teman aku…”
“Masa sih? Kamu pasti bisa punya teman yang banyak kalau kamu mau. Terserah kamu mau berapa jumlahnya, dan itu akan sebanding dengan gimana usaha kamu ngedapetinya.”
“Tapi aku nggak punya siapa-siapa. Aku sendiri di sini. Aku nggak pengen cepat pulang ke rumah karena di rumah nggak ada siapa-siapa. Ayah dan Ibu pulang malam nanti, di sekolah aku nggak punya teman, hanya dikawani sama buku-buku yang nggak aku ngerti. Aku nggak kenal dengan kata ‘kakak’ dan ‘adik’ yang sering orang sebut. Ayah seorang diplomat yang kerjanya bawa aku dan ibu pindah-pindah makanya aku nggak pernah punya teman. Sekalinya punya teman, pasti aku pisah gara-gara ayah dapat tugas jadi diplomat di negara lain. Ibuku pebisnis kantoran dan susah ngeluangin waktu buat aku. Aku nggak punya semuanya…”
“Kenapa bisa gitu?”, Dery malah nyeletuk nggak make hati kayak gitu, nggak tahu nyakitin apa nggak.
“Aku baru pindah, belum lama ini aku baru pindah ke sini. Semuanya serba baru. Yang aku pelaari di sekolah sekarang beda sekali dengan yang aku pelajari di sekolah yang lama. Sisanya sama aja, aku nggak punya semuanya…”
Dery mutar otak lama juga.
“Mungkin aku bisa jadi kakak kamu. Kamu pasti bisa setangguh mercusuar. Kamu tahu itu.”, ucap Dery. Hatinya luluh juga jadinya, nggak kuat dengar cerita Iris yang nyerempet derita hjidupnya.
“Kakak? Kakak kayak apa kamu ini? Nama kamu pun aku belum tahu.”, tanya Iris balik.
“Oke kalau gitu. Namaku Dery. Dan aku akan jadi kakak yang selalu menyayangi adiknya. Dan kakak yang selalu menjaga adiknya!”, Dery tersenyum, disodorkannya tangannya sebagai tanda tawaran. Iris senyum balik.
“Aku Iris. Lengkapnya Seiris Lazaruziqna. Aku akan jadi adik yang selalu menyayangi kakaknya dan perhatian serta pengertian terhadap kakaknya.”
Mereka saling menjabat. Dan saat selanjutnya, mereka berpelukan sebagai kakak dan adik di bawah pepohonan tanpa payung yang telah terjatuh sebelumnya.
Dulu gue telah memulainya. Menjadi kakak adik dengan Iris. Menutupi kisah hidup gue yang nggak kalah tragis dari Iris. Gue juga anak tunggal. Lahir di keluarga yang saling mengerti. Orang tua gue selalu mengerti akan gue, selalu memenuhi kebutuhan gue. Indah memang rasanya. Tapi harus di dalam rumah terus-terusan selam masa kecil gue, apa enaknya? Di rumah gue sendiri, hanya ditemani sama beberapa pembantu dan baby sitter yang gue nggak butuh. Gue nggak punya teman. Terkurung sendiri di dalam rumah selama bertahun-tahun. Gue nggak boleh tahu dunia luar, seperti diasingkan.
Dan gue sadari semuanya karena Iris. Dia yang memotivasi gue supaya gue bisa bertahan dengan keterpurukan gue itu. Dendam gue selesai setelah gue bisa keluar rumah dengan nyari sebanyak-banyaknya teman dan sahabat. Dan menemukan Iris.
Iris masih terlelap.

Kalau dipikir-pikir, perubahan pribadi Iris yang siginifikan dipengaruhi juga oleh Dery. Dery yang membantu Iris punya teman, sampai Iris bisa nyari teman sendiri. Belajar bahasa Indonesia nggak baku, belajar pelajaran di sekolah, bahkan Dery yang ngebujuk Ibunya Iris supaya melepas pekerjaannya dan memberi perhatian yang khusus pada Iris. Nggak aneh Dery udah jadi ‘anak’nya juga.
Tanpa mereka sadari, mereka sama-sama merubah jalan hidupnya masing-masing. Dan sekarang Dery tengah duduk di sebelah Iris yang tertidur di kamar Iris.
Dery menghentikan lamunannya. Iya, Ris… kamu sudah menjadi mercusuar. Mercusuar yang tangguh, dan mampu menyinari orang lain. Sekarang adalah waktu bagi kamu menerangi diri kamu sendiri agar kamu menampakan diri kamu dangan kebahagiaan yang sebenarnya…
Dery beranjak dari tempat tidur itu. Berdiri tegap dengan pandangan yang tidak terlepas dari Iris yang masih tertidur. Dery membungkukan tubuhnya, kemudian mencium kening Iris. Dan segera menuju ke pintu kamar. Sekali lagi Dery menengok pada Iris, memastikan Iris akan baik-baik saja setelah ia tinggalkan. Saat berikutnya, Dery pergi dari rumah itu. Ia melesat dengan mobilnya.
Dery mengemudikan mobil itu dengan senyum yang bercampur air mata. Sudah sejauh itu yang gue lakukan buat Iris. Kenapa gue pernah nyia-nyiain Iris. Gue nggak boleh melakukan hal itu lagi. Gue akan menjaga Iris dengan baik.

Permalink Leave a Comment

Next page »